Senin, 08 Mei 2017

My Mom, my Guardian



Hingga detik ini saya tiada pernah kecewa dengan alur Taqdir Allah, dan semoga Allah menjaga rasa ini hingga kematian menjemput.
Salah satu yang paling dominan "Saya tiada pernah kecewa oleh Taqdir-Nya" adalah: doa-doa Ibu, yaa... selain Allah Ta'ala yang tiada pernah meninggalkan kita sekejap matapun, yaitu doa-doa Ibu kita.
🌿

Sekitar 10 th lalu saya pernah menjadi office boy di daerah Gayungsari, dengan gaji Rp.450 ribu/bulan cicilan motor Honda Kirana Rp.390 ribu/bulan, sisanya saya berikan untuk Ibu semua. Untuk menambah penghasilan kalo week end jualan buku di emperan pada tiap acara Ta'lim atau kajian.

Berjalan setahun lebih menjadi OB, Saya pun curhat ke Ibu dimana berkeinginan pindah kerja dengan kondisi yang lebih baik serta gaji lebih tinggi.

-+ 3 bulan Doa ibu terwujud, Alhamdulillah diizinkan Allah diterima bekerja di sebuah NGO, padahal syarat minimal ijazah D3, sedangkan saya cuman lulusan SMU saja. Saya berkeyakinan ini adalah bagian dari Doa Ibu yang bekerja penuh dalam harapanku.

🌿🌿
-+7 bulan bekerja di sebuah NGO ada keinginan Menikah, dan Allah meng-acc proposal saya untuk menggenapkan dien bersama seorang gadis dari tanah Jawa.
Padahal saya mah apa atuh (kalo kata urang Sunda) 😁, hanya lulusan SMU, gaji saat itu hanya 900rb-an ketika bekerja di NGO, masih ada cicilan Honda Kirana.
Namun saya yakin ini adalah Doa-doa Ibu yang bekerja penuh hingga tembus ke Langit, di-Amin-kan para penduduk langit,


🌿🌿🌿
Dan mumpung hari Jumat, hari rayanya Ummat Islam serta terdapat Keberkahan berlipat ketimbang hari lain, doa-doa Makbul dan di-Amin-kan penduduk langit.
Saya cuba WA Ibunda untuk meminta doa beliau, sebagaimana sejak awal mendirikan Yayasan#AskarRamadhan saya pun meminta Doa dan restu beliau.


Bagaimana tidak, hingga sekarangpun terkadang masih timbul rasa minder kerana tiada berpunya gelar apapun, hanya berijazah SMU namun bisa Mengajak para Pemuda, Para Da'i-Da'iyah yang sebagian sudah Lc, ahli Kristology, hafidz Quran, Hafal Hadist bersama Melayani, Membina dan Memuliakan Ummat. Termasuk saudara Muslim di Rohingya & Suriah jua bisa tertunaikan dalam pelayanan ini.


Semua kerana izin Allah Ta'ala memberi kekuatan, ketegaran, dan kesehatan hingga detik ini bisa melayani Ummat dimana ini dominan doa-doa Ibunda bekerja penuh.

Wallahu a'lam

CINTA tak Harus memiliki




Kata sebagian orang menCINTAi itu harus memiliki, padahal tanpa harus memiliki jua bisa menCINTAi.

Ketika kita menCINTAi anak-anak yatim pun adakah kita harus secara langsung memiliki, tinggal bersama, mengasuhnya, memberi makan, memberi pendidikan formal maupun non-formal, dan lain sebagainya...?

Jikapun kita tiada bisa secara langsung memiliki mereka sebagai aplikasi menCINTAi sang yatim, maka kitapun bisa bersinergi dengan personal maupun lembaga terpercaya yang memberikan pengasuhan dan pendidikan langsung pada mereka, dan insya Allah kita juga termasuk dalam bagian perjuangan memuliakan anak-anak yatim meski tiada langsung memiliki mereka, karena “CINTA tak Harus memiliki”

Dalam menCINTAi anak-anak yatim sudah dijanjikan reward akan bersama Rasulullah di Jannah-nya seperti jari tengah dan jari telunjuk, selain itu jelas tertera dalam surah al-Baqarah 220 "...mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang anak-anak Yatim, katakanlah: "memperbaiki keadaaan meraka adalah baik!", dan jika kamu mempergauli mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu.."

Masya’ Allah...
dengan jelas Allah memuji bagi para hambanya yang memperbaiki keadaaan anak-anak yatim, maksud memperbaiki keadaan mereka adalah: memberi makan, mendidik, memberdayakan, dan sebagainya.

Bagi kita jua bisa memperbaiki keadaan mereka meski tiada bisa langsung, yaitu bersinergi dengan lembaga terpercaya yang selama ini memperbaiki mereka, yaitu: mengasuh, memberi makan, mendidik, memberdayakan.

Semoga kita semua termasuk di dalam perjuangan memperbaiki ummat Rasulullah. Aamiinn…

Terima kasih yang selama ini menCINTAi meski tanpa memiliki melalui #YayasanAskarRamadhan.
Semoga menjadi kemudahan mendapat Jannah abadi.

Pajak & Zakat : Sinergy hati, membangun negeri.




Berbicara tentang Pajak adalah sebuah keniscayaan timbul polemik alias Pro-kontra, jangankan Pajak, yang ada di dalam Syariat/Sistem Islam saja yaitu Zakat, masih ada Polemik contoh : Zakat Profesi/Penghasilan yang dimana sebagian saudara kita Muslim sudah Mencela habis seolah Zakat Profesi termasuk diluar Aqidah bukan lagi masalah Khilafiyah.
Seolah para Ustad² dewan Syariah sebuah Lembaga Amil Zakat (Negeri mahupun Swasta) yang cukup mumpuni Ilmunya adalah baru kemaren malam ngaji dan mengkaji Islam seolah asal dalam berIjtihad Zakat Profesi/Penghasilan
Padahal Ulama yang masih berbeza pendapat tentang hal tersebut, masih saling berpelukan dan menghormati.

Pajak memang tiada disyariatkan bagi Ummat Islam baik di zaman Nabi (periode 1) hingga periode Mulkan Adhon ( مُلْكًا عَاضًّا) yaitu periode 3 masih tetap ada Baitul Maal mengelola : Zakat, Infaq, Shadaqah, Waqaf, Hibah. serta pemasukan yang lain (ghanimah, Fa'i, 'Ushr, kharaj) dimana menyokong perjuangan dan pembangunan Kekhalifahan Islam berpusat di Utsmani, hingga diruntuhkan pada 1924 Masehi.
Bergantilah periode Mulkan Jabbariyah yang jauh amat berat, karena hampir semua Sistem adalah Sistem Kafir, sedangkan periode Mulkan Adhon masih Kekhalifahan Islam (kekuasaan Islam) masih tegak meskipun ada beberapa oknum Pejabat yang bertindak dzalim.

Kembali tentang Pajak /Jizyah, syariat yang ada hanyalah untuk kaum Kafir Dzimmi yang nilainya Pajak 1/2 - 1 Dinar per orang per tahunnya, dan untuk membiayai jaminan keamanan bagi mereka.

Periode sekarang ini (Mulkan Jabbariyah) tiada lagi yang namanya Baitul Maal sebagai pengelola Zakat, Infaq, Shadaqah, Waqaf, Hibah. serta pemasukan Negara Islam yang lain (ghanimah, Fa'i, 'Ushr, kharaj)Dan aturan/syariat tersebut berlaku untuk Muslim.
Pajak yang seharusnya diberlakukan hanya untuk Non Muslim (ahlu Dzimmah) sekarang berlaku untuk semua orang termasuk Muslim.

°•°

Artikel tentang pajak sebenarnya terlalu banyak penjelasan detail dan shahih, baik segi Nash mahupun Ijtihad Ulama baik Pro mahupun yang kontra tentang Pajak.
Namun saya tetap menyampaikan pendapat dari Ilmu yang saya miliki :
•> salah satu dalil yang dipakai penolakan Pajak dan (sebagian bahkan ada yang) Mencela habis pegawai Pajak adalah:
“Sesungguhnya pelaku/pemungut pajak di Neraka” [HR Ahmad]

••> Sebagaimana hadist tentang Isbal:
“Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di Neraka.” (HR. Bukhari)
"......... Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di Neraka. Dan apabila pakaian itu diseret dalam keadaan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti).” (HR. Abu Daud)

Sebuah Hadist jangan sekedar dibaca tekstualnya bahwa semua yang mengulurkan celananya dibawah mata kaki tempatnya adalah Neraka.
Maka, berapa juta Laki-laki Muslim yang masuk Neraka kerana tekstual fahami Hadist isbal?
Fahami Asbabul wurud /asbab terjadi hadist dan shirah Da'wah Nabi atas sebuah Hadist. Termasuk masalah Isbal salah satunya saat itu Kain jauh lebih mahal dan produksi amat rendah ketimbang Daging.
dan Sombong definisi nya menurut Nabi: Menolak kebenaran dan merendahkan orang lain, bukan lantas mengulurkan celananya dibawah mata kaki adalah Sombong dan bertempat di Neraka.

•••> Maka Hadist tentang Pajak diatas jangan sekedar fahami tekstual, shohih atau tidak, liat pula Asbabul wurudnya atau shirahnya.
Saya mengutip pendapat dari salah satu guru kami: Ustad Muhallimin Mahir, Lc. MA , beliau Alumnus universitas Islam Madinah. Bahwasanya Hadist "...pelaku/pemungut pajak di Neraka.." adalah#Dhoif (lemah) #SecaraSanad.

••••> secara Shirahnya, Shabibul Maks adalah petugas pajak yang Dzalim, yang memungut pajak di pasar-pasar (di Kota Madinah waktu) yang tidak ada perintah dan contoh dari Rasulullah serta diangkat oleh pemerintahan Islam. Layaknya seperti preman yang meminta uang palak kepada pedagang-pedagang pasar.

Namun tetap selamanya yang bernama Perbezaan niscaya ada, kerana tiada Nabi dan Khulafaur Rasyidin yang dimana bisa kita bertanya langsung.
Ketika zaman Nabi saja masih ada Perbezaan antara sahabat : ketika memasuki waktu Shalat sudah mepet dan taat perintah Nabi menuju kota yang dituju, namun Nabi tersenyum ketika diceritakan perbezaan tersebut.

Dan seyogyanya, seberbeza apapun pendapat kita dengan saudara Muslim sewajibnya menjaga Adab. sehebat apapun Ilmu Fiqh kita Adab lebih didahulukan, sebagaimana para Ulama Salafus Sholeh mereka lebih Cinta dalam belajar Adab dahulu ketimbang Ilmu.
Berbeza Madzhab atau berbeza dalam memahami Fiqh atau kondisi Khilafiyah, bukan berbeza Aqidah. sehingga kita Wajib Memuliakan dan menjaga Adab pada Saudara kita sesama Muslim.

°•°

Selanjutnya saya ingin menulis dari sisi saya pribadi seorang Amilin dan seorang Relawan Sosial-Kemanusiaan.

Dengan izin Allah saya diamanahi mengelola sebuah Lembaga Zakat-Infaq, jika dibahasakan periode Kenabian (1) periode Khulafaur Rasyidin (2) hingga periode Mulkan Adhon (3) adalah Baitul Maal yaitu Instansi penyokong Pembangunan dan Program Umat.
Jika dibahasakan sebuah Negara, maka yang membangun bidang: Pendidikan, Kesehatan, Sosial, Kemanusiaan, dsb.
Meski masih berusia 1 tahun namun dikuatkan Allah serta bersinergi dengan Lembaga lain bisa bergerak untuk Ummat dan secara tiada langsung membantu PR Program pemerintah era Mulkan Jabbariyah ini yang belum bisa terjangkau.

Yap.., secara tiada langsung saya dan team serta Sinergy dengan lembaga lain sesama lembaga Sosial-Kemanusiaan memberi solusi dan deskripsi dari periode Baitul Maal zaman kekhalifahan Islam, dimana tanpa Pajak dalam menyelesaikan masalah Ummat.

°•°•°

Terakhir sebuah Nasehat dari saya pribadi, meski belum sempurna namun ada kewajiban saling menasehati sebagai sesama Muslim.
Juga kerana aku mencintaimu, maka menasehati kamu, iya kamu.. :)😘 moga suatu ketika kita bertetangga di Surga ya 😍 ;)

~> Nasihat saya kepada saudaraku Muslim yang masih "keras kepala" mencela dan melaknat secara Personal termasuk pegawai Pajak, dengan dalil hadist tersebut hanya secara tekstual dan tiada melihat segi sanad & matan:

Dirikanlah sebuah Lembaga yang memberi solusi bagi Ummat yang dimana Programnya sama seperti Pajak yang membiayai Program: Pendidikan, Kesehatan, Sosial, Kemanusiaan, dsb.
Disadari atau tidak, Pajak masih menyokong dan membantu Ummat Muslim (yang masih dominan) di Indonesia. Berapa Juta Ummat yang terbantu: Kesehatannya, Pendidikannya, dsb,... Termasuk ketika ada darurat bencana kemanusiaan salah satu penyokong adalah Pajak, kerana memang Kondisi periode ke-4 yaitu Mulkan Jabbariyah.

Jika kita sekedar Fahami hadist tentang Pajak secara tekstual dan parahnya lagi bermudah Melaknat pegawai Pajak, sebagaimana tulisan saya sebelumnya (serial Mulkan Jabbariyah) yang intinya jangan bermudah Melaknat pegawai Bank, Pegawai Pemerintahan, Penda'wah Parlement, secara Generalisir. Namun tiada memahami kondisi periode ke-4.

Semakin banyak lembaga Zakat (apalagi saling bersinergi) maka ada percepatan solusi untuk masalah Ummat. itu jua salah satu bentuk Amaliyah kita, sebagaimana pesan Nabi: "semakin Perbanyak Amal Sholeh ketika menjelang Akhir Zaman"

Potensi Zakat 200 T, Sedekah 800 T di Indonesia serta menurut survey Negara kita adalah negara paling dermawan nomor 7 di dunia.
jika kita mahu bekerja keras menda'wahkan agar mereka (Ummat Islam) Berzakat/Shadaqah, sekali lagi.! maka akan ada percepatan solusi untuk masalah Ummat baik bidang: Pendidikan, Kesehatan, Sosial, Kemanusiaan, dsb.

Wallahu a'lam

Minggu, 28 Agustus 2016

Kisah hikmah tentang Apel




Beberapa abad lampau, di masa-masa akhir tabi’in.

Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkainya, keluar dari sebidang kebun yang luas.

Pemuda itu pun menjulurkan tangannya memungut apel yang nampak segar itu. Dengan tenang, dia memakannya. Pemuda itu adalah Tsabit. Baru separuh yang digigitnya, kemudian ditelannya, tersentaklah dia. Apel itu bukan miliknya! Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya?

Akhirnya pemuda itu menahan separuh sisa apel itu dan pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah bertemu, dia berkata: “Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?”
Penjaga itu menjawab: “Bagaimana saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu adalah pemilik kebun apel ini.”
“Di mana pemiliknya?” tanya Tsabit.
“Rumahnya jauh sekitar lima mil dari sini,” kata si penjaga.


Tiada yang cerewet

Pada dasarnya Istri kita tiada yang Cerewet, hanya saja (menurut saya) Ia memiliki kecerdasan Verbal yang tinggi serta daya ingat yang kuat.
daya ingat kuat, sehingga amatlah wajar jika ingin "Curhat" panjang tentang seharian yang dilakukan atau ditemuinya pada suami.

dan suami hendaknya jadi pendengar yang baik, bahkan kalo perlu jadi jurnalist : mendengar dan menuliskan yang dia dengar, trus jadikan sebuah karya buku (dengan nama Fulanah) dan dijual online he..he.. :D


Bingkai Ukhuwah

Seorang ulama ternama yang sudah mashyur, yaitu Imam Ibnu Taimiyah bergaul dengan berbagai kelompok dan pemikiran tanpa terjebak dalam fanatisme kelompok/jamaah.

"Sebagai seorang Muslim kita tiada boleh memisah-misahkan atau membeda-bedakan antara para imam pemimpin madzhab. Hal itu tidak ada dalam perintah Allah dan Rasul-Nya," katanya.

Merenungi pesan singkat nan bermakna dari Imam Ibnu Taimiyah, saya pribadi bersyukur dipertemukan para relawan dari berbagai kelompok Islam, namun ikhlas di bawah Bingkai Ukhuwah dan Ridho dalam: Melayani, Membina, Memuliakan ummat dan islam tanpa berfikir asalnya dari jamaah/kelompok Islam mana.


Apakah kita bisa berteman..?


 Suatu pagi yang berkah saya berdiskusi dengan teman mengenai Zakat Penghasilan/profesi.
kami berbeza pendapat mengenai hal ini, saya termasuk yang menyetujui Ijtihad para Ulama tentang adanya Zakat Profesi, teman saya yang dari Salafy ini kurang menyetujui dimana salah satunya tiada di zaman Rasululloh.

Namun yang indah adalah di akhir diskusi, perkataan teman saya bahwa zakat profesi adalah Ijtihad beberapa Ulama dan masih Khilafiyah, dan ketika berpamitan kami saling berpelukan serta saling mencium pipi.

tetiba teringat perkataan Imam Syafii Rahimahullah “Kalau kita tidak sependapat, apakah kita tidak bisa berteman?"